Sebenarnya, ikhlas itu apa? Ridho itu apa?
Dari segi bahasa, ada yang mengartikan ikhlas sebagai bersih, murni, jernih, melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah. Sedangkan ridho adalah senang, suka, rela atas segala ketentuan dari Allah. Teori umumnya, ikhlas dan ridho itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan.
Dan anugerah yang paling aku syukuri dalam pengembaraanku selama dua puluh tahun ini adalah merasakan makna kekuatan ikhlas dan ridho. Meski sebelumnya, juga seringkali memotivasi diri untuk selalu ikhlas dan ridho atas segala sesuatu. Tapi rasa-rasanya kok masih blur ya? Sebenarnya gimana to?
3. Perjuangan menghafal al-Qur'an
Rambu-rambu diawal sudah disampaikan bahwa semua peserta diharap ikhlas dan ridho menjalani proses karantina selama 35 hari. Sewaktu mendengarnya, aku langsung auto niat "bismillah ya Allah aku ikhlas dan ridho menjalani ini" niat begitu memang bagus dan harus (teorinya kan yang penting niatnya dulu, wkw) tapi ternyata, dua hal itu tidak cukup hanya dijadikan sebagai niat melainkan harus selalu mengiringi dalam setiap proses perjalanannya.
Aku tidak membayangkan sebelumnya bahwa proses ini akan seberat yang terjadi. Berat sekali. Support system internal eksternal, jasmani rohani, hablumminannas hablumminallah, semua harus di ON kan.
Kesehatan yang selama ini sering kuabaikan dan menjadi nikmat yang biasa, terasa sangat nikmat ketika berada dikarantina. Mulai dari cantengen, jari-jari membengkak, kulit-kulit sekitar kuku mengelupas yang itu sakit banget apalagi kalau dicabut, asam lambung naik, migrain, drop, mual, diare, muntah-muntah, kedinginan, masuk angin, makan nggak enak, sampai mau dibawa kedokter menjumpai diriku. Allah, dan itu ngefek banget sama proses hafalan. Jadi terganggu ngafalnya, dan lebih-lebih terpaksa harus betres dikamar dan skip waktu setoran. Alhamdulillah, cuma kejadian sekali waktu.
Kalau udah kesulitan menghafal gitu, juga pasti keinget sama semua dosa yang udah kita perbuat. Dosa ke orangtua, guru, teman sesama, Allah, kedzoliman-kedzoliman yang pernah kita buat dan banyak kesalahan yang membuat sadar untuk selalu bertaubat. Allaaaah. Sedih banget gitu, rasanya jadi makhluk paling berlumur dosa.
Kondisi psikis yang kurang sreg sama lingkungan dan atau orang-orang disekitar juga ngaruh banget buat konsentrasi hafalan.
Dan ternyata, ada yang lebih berpengaruh dari keganjalan-keganjalan itu semua. Yakni dengan mempertanyakan isi hati sudah seberapa ikhlas dan ridho dalam menjalani?
Pekan pertama dikarantina, semua terasa menyenangkan. Motivasi ikhlas dan ridho itu juga masih melekat dalam tekad. Menyetorkan hafalan-hafalan yang sudah dipunya sekaligus muroja'ah, semua berjalan baik-baik saja. Lanjut pekan kedua, ketika sudah mulai hafalan baru dan target capaian harian makin mengendur. Rasa frustasi mulai menggelayuti, bagaimana ini aku ingin khotam hafalan 30 juz disini. Ridhoilah ya Allah. Begitu gerutu sehari-hari. Belum lagi ketika ada teman yang hafalannya sudah melebihi, atau seringkali mengajukan diri untuk menyetorkan hafalan dengan rentang waktu cepat sekali.
Allah, bisa apa aku ini? Penyakit mulai berdatangan. Kondisi psikis mulai goyang. Makin sensitif sama temen maupun ustadzah ditambah kondisi datang bulan. Dan yang jelas, orientasinya makin bergeser bukan lagi Ridho tapi capaian hafalan. Ketika semua terasa sulit dan memuakkan, kenapa Allah terlalu tega menghukumku? apakah ini caraNya untuk menghapus dosa-dosaku? Target hafalan masih sangat jauh dari hitungan setengahnya 30 juz. Kemudian memasuki pekan ketiga, aku tersadarkan bahwa aku mendambakan target bukan lagi ridhoNya. Dan ternyata aku belum benar-benar ikhlas menjalaninya. Masih melihat kompetisi hafalan teman, bukan semata-mata menghafal karenaNya.
Aku bersimpuh sujud setelah bersuci dari hadast. Melepaskan semuanya, mencoba ikhlas, menata niat kembali dan memohon ampun. Ya, semua terasa lebih ringan tapi menjadikan semangatku mengendor "yasudahlah, aku nrimo seberapapun bonus yang Allah kasih". Nrimo sih nrimo, hafalan semakin lebih ringan dan rileks tapi kok ya masih sentimentil sama temen yang bisa ngebut hafalannya. Setanpun berbisik, dia saja bisa lho Rif. Toh kamu sudah jauh-jauh, mahal-mahal kesini masak ya tidak mau memaximalkan target. Akhirnya terjadilah dampak ngoyo lagi, terburu-buru dan hati terasa tidak tenang. Disitulah Allah uji dengan sakit yang sangat tidak mengenakkan.
Dari peristiwa itu aku mencoba merenung lagi, nah kan kalau terlalu ambisius sama kuantitas duniawi dan niat hati tidak tertata lagi, ketenangan, keikhlasan, ridho itu hilang sendiri. Aku juga menyadari, bahwa kondisi hati harus selalu dimengerti. Menata niat untuk benar-benar menjalankan karenaNya lebih penting dari ambisi lainnya. Nyatanya, hafalan buru-buru lebih menyiksa diri ketimbang ikhlas, rileks seberapapun dapetnya hafalan. Motif niat sebijih zarroh itu terbukti mempengaruhi. Bukan dalam hitungan menit, jam ataupun hari. Melainkan detik. Hati itu mempengaruhi. Misalkan saja ketika Allah mudahkan hafalan lembar sebelumnya, lalu ketika akan beranjak ke lembar selanjutnya kita merasa pasti bisa dan mudah justru Allah persulit. Karena kita lupa bersyukur dan menganggap bahwa kita bisa. Padahal, yang membuat mampu itukan Allah bukan yang lainnya.
Namun Alhamdulillahnya, memasuki pekan ke empat dan ke lima aku mulai mengerti isi hati dan berusaha terus menata supaya tetap lurus, tulus, murni, rela, senang. Kekuatan ikhlas dan ridho itu benar-benar terbukti. Meskipun ganjalan satu bijih zarroh juga terkadang datang melemahkannya, tapi setidaknya aku semakin mengerti bagaimana ikhlas dan ridho itu harus selalu dipermak, dijaga dan dimohonkan agar selalu ada dalam hati.
Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa Nabi bersabda “Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah’, lalu Allah berfirman,‘(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku.’
Semoga Allah mengkaruniakan dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang memiliki modal ikhlas dan ridho dalam menjalani hidup ini,
Rifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar