2. Menghafal itu mudah, Muroja'ahnya sulit
Oh ya? Tidak semudah itu Ferguso.
Dua-duanya, ketika Allah mudahkan akan menjadi mudah. Tapi kalau Allah persulit ya pastinya sulit. Yang jelas keduanya perlu perjuangan ekstra. Mulai dari psikis, fisik, waktu, circle, guru dan banyak support system lainnya yang harus berjalan.
>> Tentang waktu
Rata-rata dipondok tahfidz, padahal pondok tahfidz lho minimal satu tahunlah baru bisa selesai. Masak iya satu bulan?
Mari kita menjadi manusia yang rasional dan proporsional.
Dalam program karantina, tidak ada program lain selain menghafal dan antek2 yang berhubungan dengannya. Bahkan, mencuci, menyetrika bersih-bersih sudah ada petugasnya. Sedangkan di pondok tahfidz seringkali dibarengi dengan kegiatan sekolah, asrama, dsb. Dalam sehari program karantina intensive 13jam menghafal, sedangkan katakanlah pondok tahfidz 3 Jam.
13x35hari = 455 jam
3x365 (-libur 60hari) = 915 jam
Selisih: 915-455 = 460 jam
Waktu selisih tersebut, sama halnya dengan waktu yang digunakan untuk murojaah santri karena dipondok tahfidz pasti ada sistem murojaahnya. Sedangkan dikarantina hanya setoran.
Rentang ingatan juga mempengaruhi kecepatan menghafal, dalam waktu 13 jam yang nyaris tidak berjeda (hanya solat makan) membuat kita bisa menghafal ayat lebih banyak apalagi kalau sedang menghafal surat/juz yang banyak ayat miripnya. Otomatis tidak perlu banyak waktu untuk mengingatnya lagi, karena baru dalam hitungan jam pasti masih ingat.
Dan yang perlu diketahui, dalam proses karantina tidak ada paksaan dan target untuk menyelesaikan 30 juz. Semampunya. Kalau ternyata faktanya ada yang menyelesaikan dalam waktu satu bulan, biasanya dia sudah punya modal hafalan atau amalan baca qur'an yang luarbiasa (misal, sudah terbiasa membaca qur'an satu hari min. 3 juz selama beberapa tahun, dsb).
>> Kualitas Hafalan
Pakainya metode apa ya? Di talqinkah?
Menghafal cepat bukan berarti hanya mengedepankan kuantitas, tapi kualitas juga tetap menjadi prioritas. Kualitas hafalan setiap orang memang berbeda-beda, ada yang dipancing depannya, ada yang bisa glondongan sekali setor 1-3halaman, dan banyak macam tapi tidak ditalqin ya. Dengan latar belakang peserta dan ustadzah yang berpartisipasi, disana akan menemukan macam-macamnya. Yang jelas kita sama-sama saling mengapresiasi satu sama lain karena sudah berusaha berulang kali membaca, iqro', ayat-ayat Qur'an mboh berapa kali dalam sehari yang nggak tau kapan lagi fenomena itu terjadi. Dan in syaa Allah, kalau niatnya lurus Allah akan perbagus kualitas hafalan Qur'an kita. Please jangan men-generalisir dan judge kalau hafalan peserta karantina itu sungguh instan jadi kualitasnya nggak maximal dan gampang lupaan. Tidak sedikit dari kita yang paham kalau yang penting niatnya, prosesnya, keikhlasannya, dan hasil kuantitasnya adalah urusanNya. Sebagaimana menjadi hal yang ditekankan di awal proses karantina.
Intinya, menghafal al-Qur'an itu waktunya bisa pake sistem kilat kalau fokus dan intensive. Juga memberlakukan sistem ikhlas, ridho dan syukur. Tapi kalau muroja'ah, tidak ada akhirnya. Sampai nafas diujung hayat :)
Dan yang JELAS BIN PENTING adalah mengamalkan al-Quran tidak sebatas menghafal dan memuroja'ah tapi bagaimana menjadikan al-Qur'an inside sebagai pedoman hidup, membentuk akhlak, dan menjelma menjadi lifestyle dalam kehidupan sehari-hari kita.
Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan dan meridhoi kita untuk mengamalkan al-Qur'an ya all,
Rifa
Bersambung ....
Bersambung ....
📷: Tempat setoran dan semedi sewaktu di karantina

Tidak ada komentar:
Posting Komentar