Sepotong episode tentang IMM
Kata siapa organisasi itu melulu fafifu. Berbeda dengan IPM yang memiliki objek garapan yang jelas, yakni pelajar yang masih sangat butuh bimbingan untuk menjadi pelajar-pelajar yang trampil, berilmu dan berakhlak mulia, IMM justru kurang punya garapan yang jelas. Kalau sasaran organisasinya ya jelas, jadi wadah bagi mahasiswa tapi kan nggarap siapa? Wong mahasiswa itu udah pada terbuka alias liberal semua atas kehendaknya. haha. Yang pada akhirnya, IMM bergerak dalam kejelasan didalam internalnya sebagai wadah bagi anggotanya untuk mengasah daya intelektualitasnya. Meski jelas, lingkup eksternal juga terjamah berkat intelektualnya. Lha wong trikompetensinya saja religiusitas, intelektualitas, humanitas. Manusia religius, intelektualis, ya mesti harus humanis terhadap masyarakat dan lingkungan setempat.
Nha ini yang penting. Hampir setiap kali diskusi dapet tamparan keras "Anak IMM harus terlibat dalam dunia kemasyarakatan. Kalau cuma sibuk kuliah organisasi kuliah organisasi, itu zong. Banyak mahasiswa hebat dikampusnya, ketika pulang ke rumah cuma bisa plonga plongo bahkan gagap dengan masyarakat setempat". Satu lagi insight dari IMM itu biar terus semangat buat bermanfaat untuk umat di lingkungan sendiri.
Alhamdulillah, periode ini komisariatku juga ngrintis rumah tahfidz di sebuah desa dikalasan. Namanya Dalem Qur'an Somodaran dalam rangka membumikan al-Qur'an di masyarakat. Sehingga kolaborasi mewujudkan masyarakat yang sebenar-benarnya itu benar-benar dapat terwujud.
Rasa syukur, terucap bisa gabung bareng temen-temen IMM Komisariat UY. Kompetisi bacaannya jalan, diskusinya jalan, actionnya juga jalan. Sangat membantu proses perkuliahan yang berlangsung dikelas. Selain membuatku melek dengan berbagai kerja intelektualnya, ikatan ini juga berhasil menjadi keluarga yang menguatkanku untuk menjalani dunia perkuliahan. Mulai dari dosen, mahasiswa, makulnya, apalagi kalau mau sks-an/ujian nih ikatan membantu banget. Juga nek sedang merasa terbully atau piye-piye perihal Muhammadiyah aku juga curhatnya kesini :((
Dan did you know? inilah ikatan yang mengajarkanku jadi cah malam.
Dearest pertama kali pulang jam 00an sendiri dan berani dimulai dari ikatan ini. Meski setelahnya pulang dini hari yo wes biasa wae. Hehe. Njok ngapain tu lho? Berhubung aku nggak terlalu deket sama semua personalianya, jadi aku dateng kegiatan IMM tu yang aku rasa penting (emang apa tu lho yang nggak penting :3) Maksudnya, sampai jam segitupun selalu bahas hal penting. Kan juga nggak setiap hari lur. Seenggaknya kalau nggak rapat ya berdiskusi. Kalau cuma hahahihi ya mesti aku wes bali kawet jam pitu wkwk.
Uji ketahanan juga berlangsung disini. Kuantitas yang minoritas membuatku terkadang males buat nampakin identitas diri sebagai anak IMM. Tapi kalau yang udah tau, yawes nggak masalah hehe. Innalillahnya, setelah jadi kader langsung diamanahi jadi sekum [17/18] dan kabid bidor [18/19]. Adaptasi siklus organisasi yang berbeda dengan IPM, IMM memaksaku belajar mengerti lagi. Tentang menejemen organisasi maupun mental diri. Kalau boleh jujur ya, saya berani sama preman-preman itu setelah gabung di ikatan ini. wkwk. Preman opo to Rif, Rif. Maksudnya, manusia berperawakan sangar berhati malaikat. Hihi
Meski akhir-akhir ini aku juga terserang sindrom males ber-IMM tapi Alhamdulillah ada banyak temen-temen yang bisa back up. Kalau udah ada yang lain kenapa harus kita kan? Eh kebalik ya. wkwk. In syaa Allah, semoga khusnul khotimah IMMannya.
Billahi fi sabilil haq,
fastabiqul khoirot
Rifa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar