• Supri and the Beat

    Kirain motor bapak-bapak. Begitu kira-kira first impression temen-temen kalau melihat supri si kesayangan saya. Pun tidak lain hanya senyum syukur yang bisa saya lakukan untuk merespond balik.

    Dalam sebuah perjalanan bersama supri, kita ngobrol "pri, kira-kira kenapa kok kamu suka dibilang motor bapak-bapak?" "ya mungkin aku motor jadul, bapak-bapak kan jadul" "Padal pengguna motor tu nggak kenal umur lho pri" "Mmm mungkin gini kali ya, anak muda jaman sekarang kan jarang nrimo dengan pemakaian barang-barang jadul. Maunya baru dan mmm minimal yang ngikut trend lah. Sekarang kan trendnya sudah metik. Oh ya sama kalau pake motor gigi itu kan ngoyo, anak sekarang maunya instan, nggak mau ngoyo. Kan yang cenderung nrimo dan ngoyo itu bapak-bapak" "Masak sih pri, itu bias gender lho. Watak ibu-ibu juga nrimo dan ngoyo pri wkwk" "ya tapikan ibu-ibu juga udah banyak yang pake metik" "Pri, tapi temen-temenku juga masih banyak yo yang pake motor gigi. Anak muda, cewek, enjoy-enjoy aja. kamu tu sukanya lho" "yasudah kalau gitu, wong ya cuma masalah first impression lho kamu tu" "iya iya pri"

    Supri selalu menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Bagiku, jalanan adalah tempat berfikir, berdzikir, dan mlipir. Dengan berbagai keterbatasan supri, kalau aku nggak dapet pinjeman motor dari mbak atau ibu buat menembus batas kalau mau kemana-mana, supri tetep jadi temen terbaik. Supri udah pernah aku ajakin buat nembus terjalnya gunung kidul, curamnya kaliurang, berkeloknya kulonprogo ataupun solo. Meskipun kalau habis diajakin nge track gitu dia bakal ringkih, manja, sakit-sakitan. Bahkan setiap mbengkel, ada aja maunya. Yang minta beli ini itu atau ganti ini itu. Terakhir kita mbengkel bareng, supri minta ganti slongsong gas dan satu set slebor depan. Nggak tanggung tanggung habisnya langsung 200k. Untung sayang.

    Dan ternyata, itu permintaan jajan terkahir supri. Agak drama dan alay si, tapi ini yang terjadi. Beberapa hari setelah kita mbengkel bareng, ibuk minta ijin "ndok motornya dijual ya?" "Lho nanti aku pake apa?" "ya pakai yang lain, kan nanti in syaa Allah juga ada" "mmm ya" mikirnya yaudah, ibu sudah berdalih, semoga ada ganti yang lebih dari supri.

    daaaaaan ..... 
    Besok malemnya ada tamu, ibuk manggil "ndok itu yang mau beli motor, buat sekolah anaknya dari Gunung Kidul ke Jogja. Anaknya suka telat dan lagi cari motor dengan harga terjangkau." "mmm ya" yang bikin aneh itu langsung sreg sama si supri, kesayangan siapa sih ini ya langsung ditaksir orang. hmmm oke deh. Dan wagunya aku, pake acara sedih-sedih pengen nangis gitu. Gimanapun supri, gimanapun kata orang, supri tetep supri. Tapi haru juga hinggap, karena sepertinya supri akan benar-benar lebih bermanfaat.

    Supri jadi motor yang bersejarah, mulai dari Riau ke Jogja buat kuliah, dibuat mbak Ilma sekolah di Mu'allimaat, dibuat aku kuliah dan nguli-ah, dan hingga semoga supri lebih bakal bersejarah dan bermanfaat lagi.

    Semoga si empu barunya supri lebih sayang daripada aku dan supri bisa lebih bakoh, sehat, manfaat, bermartabat, loh loh wkwk

    Sore itu
    Alhamdulillah, biidznillah belom nyampe seminggu ditinggal supri, Beat pink pun mendarat dirumah. Allah. Padahal ikhlasnya aja masih setengah-setengah, gimana kalau kita bisa benar-benar mengikhlaskan? pasti rasa syukur itu bisa benar-benar tumpah.

    Waa baru yaa. Begitu kira-kira first impression temen-temen kalau lihat si beat pink karena masih belom ganti plat. Sekarang nggak cuma senyum syukur yang membalas. Senyum-senyum salting pun ikut menggelegar. wkwk :) Alhamdulillah

    Terkadang, 
    kita memang harus melepaskan, mengikhlaskan, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih mapan.

    Hari ke 9, Muharrom 1440 H 
    Rifa

    *Suatu saat nanti, 
    semoga aku menemukan foto supri


  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Back to