• Cinta Rumput: Bukti Cinta pada Tuhan


    Singapura, negara yang berhasil menciptakan keindahan dalam keterbatasan alamnya. 

    Sore itu (07/02) aku bersama teman-teman WIHW dan kak Saiful bercengkerama penuh tawa. Menikmati indahnya romantisme semesta di taman Marina Bay. Duduk diatas rindangnya rumput, makan sate, berbicara tentang negara, nge-dollar bersama menjadi pelengkap senja sore ini. 

    Diakhir percakapan kami, bagaimana kami tidak tertawa tertampar ketika kak Saiful, sebagai penduduk asli Singapura menunjukkan ke-arifan yang membuat hati kami tertunduk malu. 

    "Coba lihat, sekeliling kita. Tidak ada orang Singapura duduk-duduk diatas rumput. Paling-paling pengunjung. Itupun satu dua. Iya kan?"

    "Oh iyaya kak. Kenapa begitu? Padahal nikmat sekali disini"

    "Karena dari kecil, kami tidak diajarkan untuk menginjak rumput. Apalagi duduk-duduk. Berhubung saya bersama kalian, its oke lah. haha"

    Gerr 😂 tertawa malu

    Hamparan rumput disini terbentang luas sekali. Tapi dipinggir tengahnya (membentuk lingkaran) terdapat jalan mengitar. Jalanan itu ramai orang. Mereka tidak melulu diam menikmati alam. Tapi sibuk berlari menyemai kesehatan. (Sewaktu kita hendak foto saja, rasanya mau ditabrak terus. Tabrak lari oy. wkwk.)

    Kemudian, aku mencoba mengamati hamparan rumput itu. Tidak ada satupun tulisan "dilarang menginjak rumput". Dan baru kusadari, tidak ada larangan bukan berarti dipersilahkan. Rupanya, kesadaran menyayangi sesama makhluk ciptaan-Nya itu telah terpatri dalam sanubari mereka. 

    Coba saja kesadaran kami juga sudah terpatri, pasti sebelum diajak duduk pasti kami bertanya "bolehkah kak, kita duduk disini?" Tapi nyatanya, saat ada pilihan jalan dan rumput, kami memilih berjalan dirumput. Pun beberapa dari kami ada yang melepas sendal menikmati ademnya rerumputan. Nyatanya, kami langsung berlari menuruti kemauan diri sendiri dan menyakiti rumput yang tak mati.

    Pelajaran itu merefleksi dalam diri. Aku yang selama ini sering usil petik-petik daun, injak rumput, apatis sama taneman, seketika tersadar.
    Maafkan, maafkan.

    Sore itu, aku mendapati lagi,
    satu dari sekian hakikat
    "Loving God, Loving Neighbor"
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Back to