Indahnya pemandangan Kuala Lumpur City Center (KLCC), gemerlap air mancur, kesempatan bertemu dengan sosok istimewa, menjadi topping indahnya senja pertama di Malaysia. Ya! Bertemu dengan Persatuan Pelajar Indonesia di Malaysia (PPIM) adalah kesempatan yang luarbiasa dan menggairahkan. Tidak melulu berbicara tentang interfaith, tetapi juga tentang mengorganisir organisasi.
Sambutan hangat teman-teman PPIM mengharukan karena ternyata mereka sudah datang lebih awal. Pertemuan kita diawali dengan perkenalan singkat personal, kemudian dilanjut perkenalan profil organisasi masing-masing dan sharing.
Pada kesempatan kali ini, kak Rahmat dengan senang hati memperkenalkan YIPC kepada temen-temen PPIM. YIPC adalah komunitas yang memfasilitasi dialog untuk mengklarifikasi prasangka dengan kegiatan rutinnya ialah Scriptural Reasoning. Ada banyak hal yang ternyata baru kita ketahui setelah proses klarifikasi. Misalnya, Kak Rahmat menceritakan pengalaman bahwa dulu ia pernah mempunyai prasangka kepada umat kristiani bahwa mereka itu kafir. Akan tetapi, setelah banyak berdialog di YIPC, Kak Rahmat menjadi mengerti esensi kafir. Pun al-Quran sendiri dalam ayat-ayatnya menerangkan bahwa kafir (orang-orang yang hatinya tertutup) itu memiliki makna yang beragam.
Kemudian ketika ditanya tentang tantangan, pastinya banyak. Salah satunya tentang tantangan perjalanan sebuah dialog yang akan dilaksanakan di Piri (yayasan milik Ahmadiyah) yang di terror, sampai contact personnya ketakutan. Dan yang menjadi menarik dari prolog cerita tentang tantangan, temen-temen PPIM malah penasaran dengan Ahmadiyah. Jadilah berbelok topik Ahmadiyah”.
Ahmadiyah sebagai salah satu organisasi Islam yang sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan. Dalam Ahmadiyah sendiri terbagi lagi menjadi Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI). Perbedaan antar keduanya cukup signifikan. Misalnya, dalam hal solat teman-teman GAI bisa berjamaah dengan siapa saja akan tetapi JAI harus dengan sesamanya. Untuk lebih lanjutnya, temen-temen yang kepo tentang Ahmadiyah bisa baca buku atau dialog langsung dengan mereka. Gimana caranya? Temen-temen bisa bergabung dengan YIPC, YIPC memfasilitasi siapapun yang ingin berdialog baik interfaith maupun intrafaith.
Kembali ke topic tantangan, YIPC senantiasa berusaha menghadapi tantangan dengan jalan damai. Seperti dalam hal terror meneror, YIPC senantiasa terbuka untuk melakukan dialog klarifikasi. Namun sayangnya, yang menjadi masalah adalah ketika mereka yang meneror tidak mau diajak berdialog duduk bersama.
Setelah perkenalan dan sharing tentang YIPC, sesi selanjutnya adalah perkenalan dan sharing dari PPIM. Berbeda dengan YIPC dengan notabe organisasi non-Government, PPIM adalah organisasi dibawah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Meskipun begitu, dalam hal pendanaan YIPC dan PPIM sama-sama bekerja keras mencari sponshor. Dari 243 kampus yang ada di Malaysia, hanya 38 kampus yang rata-rata menjadi pilihan tempat study mahasiswa Indonesia.
Berbicara tentang apa yang dilakukan PPIM, PPIM periode ini di padatkan dengan presentase kegiatan 60% akademik, 40% event organizer. Kegiatannya diantaranya sahur dan buka puasa on the road, symposium, olimpiade Indonesia, leadership camp, standing converence, dan masih banyak lagi. Menariknya, tepat pada 17 Agustus 2018 nanti, PPIM akan memberikan kado ulang tahun special untuk Indonesia. Kado tersebut berupa penerbitan buku antalogi dengan 145 judul tulisan karya anak bangsa. -Dear, selamat Dirgahayu 73 Republik Indonesia- Oh ya, PPIM juga memfasilitasi teman-teman Indonesia yang membutuhkan donasi buku. Hari itu juga (saat bertemu kami), paginya PPIM baru mendapat permintaan 100 kg buku untuk masyarakat Maluku Utara.
Dalam pengelolaan organisasi, PPIM juga senantiasa terbuka dengan siapapun. Termasuk, jika YIPC mau bekerjasama dengan PPIM bisa banget. Prinsipnya dapat bermanfaat bagi sesama dan Indonesia.
Dizaman yang sudah maju ini, kesempatan manusia untuk belajar dimana saja semakin terbuka lebar. Kalau masalah uang, beasiswa juga banyak bertebaran. Kalau kesulitan, temen-temen PPI siap mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Biasanya temen-temen PPI dunia yang akan melakukan sosialisasi untuk expo ke kampus-kampus di Indonesia. "Belajar di Negara orang membuat kita mempunyai rasa nasionalisme yang sebenarnya. Berbagai perbedaan orang Indonesia yang belajar di Malaysia tidak pernah menjadi masalah. Dari manapun kamu, sabang ataupun merauke, kalau dari Indonesia, berarti PPIM." Ujar Kak Dony selaku ketua umum PPIM.
Ada banyak hal yang kita sharingkan pada kesempatan senja kala itu. Sayangnya, tidak semua dapat tertuliskan dengan rapi disini. Trimakasih banyak kepada Allah yang telah mempertemukan kami (YIPC dan PPIM) sehingga bertambahlah syukur kami, saudara kami, ilmu kami, dan jagalah hati kami untuk saling mengasihi.
Kala senja selanjutnya hendak datang di Malaysia,
bukan lagi rona merah indah yang kutunggu,
tapi kala itu bersamamu.
Regards,
Fadhlinaa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar